Selasa, 02 Februari 2016

TEORI SASTRA

ANALISIS PENDEKTAN PRAGMATIK


Di susun oleh:
Kelompok 11 (1C/PBSI)
1.      Eka Rizky Amaliyah               (15410132)
2.      Istiqomah Novitaningrum       (15410133)
3.      Eva Rahmawati`                     (15410134)
4.      Ardhea Putri Ariffa                (15410135)


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG


ANALISIS PENDEKATAN PRAGMATIK

Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan pendidikan, moral, politik, agama, ataupun tujuan yang lain. Atau pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sesuatu hal yang dibuat atau diciptakan untuk mencapai atau menyampaikan efek-efek tertentu pada penikmat karya sastra, baik berupa efek kesenangan, estetika atau efek pengajaran moral, agama atau pendidikan dan efek-efek lainnya.
Pendekatan ini cenderung menilai karya sastra berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut bagi pembacanya. Pendekatan ini menekankan strategi estetik untuk menarik dan mempengaruhi tanggapan-tanggapan pembacanya kepada masalah yang dikemukakan dalam karya sastra. Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan moral, agama maupun fungsi sosial lainnya.

METODE PENDEKATAN PRAGMATIK

Penelitian resepsi pembaca terhadap karya sastra dapat menggunakan beberapa metode pendekatan, antara lain pendekatan yang bersifat eksperimental, melalui karya sastra yang mementingkan karya sastra yang terikat pada masa tertentu ada pada golongan masyarakat tertentu.
1.      Kepada pembaca, perorangan atau kelompok disajikan atau di minta pembaca karya sastra, sejumlah pertanyaan dalam teks atau angket yang berisi tentang permintaan, tanggapan, kesan, penerimaan terhadap karya yang di baca tersebut untuk diisi jawaban-jawaban itu nanti di tabulasi dan di analisis.
2.      Kepada pembaca perorangan atau kelompok, diminta pembaca karya sastra, kemudian ia di minta untuk menginterpretasikan karya sastra tersebut. Interpretasi-interpretasi yang dibuat tersebut dianalisis secara kualitatif untuk melihat bagaimana penerimaan atau tanggapan terhadap karya sastra.
3.      Kepada masyarakat tertentu diberikan angket untuk melihat prestasi mereka terhadap karya sastra, misalnya prestasi sekelompok kritikus terhadap kontenporer persepsi masyarakat tertentu terhadap karya sastra daerahnya sendiri.

SINOPSIS NOVEL CINTA DUA PEREMPUAN

Cerita yang di angkat oleh Bung Smas dalam novelnya ini, merupakan kisah cinta dua perempuan berbeda generasi pada tiga zaman. Cinta dua perempuan ini tentang dalam tiga zaman, zaman penjajahan Hindia Belanda, penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan.
Dua perempuan itu adalah R.R. (Raden Roro) Kusumaningtyas (Ningtyas) dan Kencana Puri (Puri). Keduanya tinggal di rumah besar yang disebut Dalem Pandukusuman (puri/istana Raden Mas Pandukusumo). Raden Mas Pandukusumo adalah ayah dari Ningtyas, juga kakek dari Puri. Puri adalah keponakan Ningtyas dan Ningtyas sendiri adalah adik dari Ayah Puri.
Sungguh dua perempuan itu masing-masing punya cinta. Keduanya tak bisa sama, baik versi maupun intrik-intriknya. Cinta Puri sangat klasik, cinta yang lurus-lurus saja untuk seseorang yang hilang entah ke mana. Sedih dan sakit perasaan Puri kala seseorang yang mencuri hatinya itu pergi dan menghilang. Ia merasa di campakan. Setelah bertahun-tahun menghilang akhirnya orang itu muncul dengan kabar yang membuat hati Puri seperti tersambar petir. Bagaimana tidak? Ketika seorang yang kau cintai pergi hilang entah kemana dan tanpa kabar, lalu tiba-tiba muncul dengan kabar bahwa orang kau cintai itu telah menikah dan memiliki seorang anak. Sungguh hati lembut dari seorang gadis bernama Puri, baru kali ini merasakan pedih yang teramat. Sementara Ningtyas cukup dekat dengan seorang inspektur Belanda. Namun setelah Belanda kalah oleh Jepang dan pada akhirnya Indonesia di kuasai oleh Jepang, Ningtyas tak pernah mendengar kabar dari kekasihnya yang bernama Pieter itu.
Puri memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Guntur yang juga tinggal di Dalem Pandukusuman. Awalnya Guntur dan Ningtyas memiliki hubungan yang tidak baik. Namun setalah terjadi suatu peristiwa mengerikan menimpa Ningtyas pada zaman Jepang, hubungan tante dengan keponakan itu perlahan menjadi baik. Bukan hanya hubungan tante dengan keponakan saja yang menjadi baik, namun hubungan Ningtyas dengan seorang pemuda yang berasal dari Zelebes pun menjadi baik.
Guntur pun memiliki kisah cinta yang tak kalah rumit. Ia mencintai seorang gadis yang merupakan teman semasa ia bersekolah. Namun tak sempat Guntur menyatakan perasaannya, gadis itu ternyata telah menikah dengan seorang laki-laki bernama Sardikun.
Karekter-karakter tokoh “Cinta Dua Perempuan” sangat unik. Bung Smas membuat karakter tokoh sesuai dengan namanya tokoh tersebut. Seperti Guntur, memiliki watak yang pemberang, berani, penuh ambisi. seperti Guntur. Ketika membaca novel ini, kita akan merasakan bahwa kita sedang ditarik kebelakang pada zaman penjajahan. Kita betul-betul merasakan bagaimana perasaan dari dua tokoh perempuan disini dan suasana yang ada. Tokoh yang ada didalam novel ini berhasil mengugah kita untuk berpikir kembali tentang kesadaran manusia. Kita diajka berpikir kembali bagaimana kita sebagai individu menempatkan dirinya dalam hubungannya dengan orang lain dan Tuhan. Meskipun disini Bung Smas tidak secara gamblang menunjukan hubungan kualitas antara tindakan manusia dengan Tuhan, melainkan secara tersirat.


Pembaca I
Nama   : Weni Murtiningrum
Jurusan: PGSD
Usia     : 18 tahun

NO
PERTANYAAN
JAWABAN
1.
Bagaimana pendapat Anda mengenai novel ini?
Novel ini sangat bagus karena menghadirkan masa lalu dimana sejarah bangsa Indonesia dan hal percintaan di masa itu. Di mana kisah percintaan dalam belenggu penjajah.
2.
Apa yang Anda tangkap dari novel ini?
Kita dapat merasakan kembali ke masa penjajahan Jepang, Belanda, dan era kemerdekaan. Di mana rakyat miskin tidak boleh jatuh cinta terhadap kaum bangsawan karena dianggap tidak sederajat.
3.
Menurut Anda, apa pesan yang dapat di ambil dari novel ini setelah Anda membacanya?
Pesannya, kita jangan menganggap orang atau mencari-cari jodoh kita hanya melalui derajat saja.


Pembaca II
Nama   : Aan Umaroh
Jurusan: PBSI
Usia     : 19

NO
PERTANYAAN
JAWABAN
1.
Bagaimana pendapat Anda mengenai novel ini?
1.      Dari segi sejarah mengingatkan saya kembali pada masalalu di mana Indonesia belum mencapai sebuah kemerdekaan dan memberikan sebuah kesadaran pada diri saya bahwa untuk meraih sebuah kemerdekaan tidaklah mudah, berbagai penderitaan, siksaan bahkan nyawa dikorbankan.
2.      Dari segi percintaan, memberikan sebuah pelajaran terhadap diri saya bahwa cinta itu tidak memandang status sosial dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, cinta itu butuh perjuangan supaya yang dicintai bisa merasakan kekuatan dari cinta itu.
3.      Dari keseluruhan cerita sendiri, sangat kental dengan budaya jawa karena memang pada dasarnya novel ini berceritakan tentang kehidupan seorang bangsawan dari keraton Solo, mulai dari nama tokoh yang dibuat kejawa-jawaan yang mempunyai arti tersendiri dalam bahasa jawa kemudian sedikit menyisipkan tentang pembahasan tembang-tembang jawa.
2.
Menurut Anda, apa pesan yang dapat di ambil dari novel ini setelah Anda membacanya?
Novel itu memberikan pesan bahwa kita harus selalu ingat betapa dulu nenek moyang kita, para pejuang kita, berjuang mengorbankan jiwa dan raganya demi memperjuangkan bangsa ini. Jadi kita tidak boleh menyepelekan yang namanya sejarah dan kita harus selalu mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawan yang sudah menjadikan kita sekarang ini hidup tanpa adanya penjajah.
3.
Apa yang Anda tangkap dari novel ini?
Novel Cinta Dua Perempuan ini tentang kisah cinta dalam tiga zaman, zaman penjajahan Hindia Belanda, penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan.
Dua perempuan itu adalah R.R. (Raden Roro) Kusumaningtyas (Ningtyas) dan Kencana Puri (Puri). Mereka hidup dengan kisah masing-masing yang dibahas dalam tiga zaman yang berbeda. Banyak berbagai ritangan yang dialami kedua perempuan ini hingga akhirnya mereka berdua bisa menikah bersama diwaktu dan hari yang sama disahkan menjadi sepasang suami istri.

  
Pembaca III
Nama   : Septiani Wahyu Utami
Jurusan: Fisika
Usia     : 18

NO
PERTANYAAN
JAWABAN
1.
Bagaimana pendapat Anda mengenai novel ini?
Penulis novel ini berhasil menggambarkan latar (setting) sosial-budaya Jawa Tengah dengan sangat hidup. Bahasanya yang mengalir, karakterisasi tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambaran latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa begitu nyata. Cinta Dua Perempuan merupakan judul yang mewakili isi dari novel ini. Mengisahkan cinta dua orang perempuan yang berbeda generasi.
2.
Pengaruh apa yang Anda rasakan setelah membaca novel ini?
Tanpa saya sadari novel ini membangkitkan jiwa nasionalisme yang ada dalam diri saya. Membuat saya semakin tertarik dengan cerita-cerita sejarah bangsa Indonesia. Ternyata hidup di zaman itu bukanlah hal yang menyenangkan, nyawa pun setiap waktu selalu menjadi taruhan.
3.
Menurut Anda, apa pesan yang dapat di ambil dari novel ini setelah Anda membacanya?
Bersyukur kepada Allah karena kita tidak ikut merasakan susahnya hidup di zaman penjajahan seperti yang di ceritakan dalam novel ini. Betapa beruntungnya kita semua dapat hidup dengan tenang seperti sekarang, tanpa ketegangan dan ketakutan akan nyawa yang bisa saja sewaktu-waktu melayang.
4.
Apa yang Anda tangkap dari novel ini?
Pada novel Cinta Dua Perempuan karya Bung Smas ini merupakan novel bergenre sosial budaya. Pada novel ini mengaitkan kehidupan manusia dengan aspek-aspek kemanusiaan dan sosialisme. Novel ini menceritakan permasalahan-permasalahan yang ada pada kehidupan zaman dulu, mulai dari ketegangan ketika dijajah, kisah cinta, sosial-budaya yang ada di Jawa Tengah. Semua dikemas dengan uraian-uraian yang bersifat sosial.


Pembaca IV
Nama   : Livia Puput Damayanti
Jurusan: Farmasi
Usia     : 18 tahun

NO
PERTANYAAN
JAWABAN
1.
Apa pengaruh yang pembaca rasakan setelah membaca novel ini ?
Novel ini membawa saya ke masa penjajahan dulu bahkan hingga kemerdekaan, di mana seorang rakyat jelata tidak boleh mencinti atau dicintai oleh bangsawan karena mereka tidak berada pada kelas sosial yang sama.
2.
Menurut pembaca, novel Cinta Dua Perempuan itu seperti apa?
Walaupun saya cukup kebingungan dengan alur ceritanya, menurut saya novel ini menarik dan tidak membosankan. Cerita selanjutnya tidak mudah di tebak seperti yang terjadi pada novel cinta pada umumnya.
3.
Pesan apa yang dapat di ambil dari novel ini?
Untuk mencapai sebuah kemerdekaan itu tidaklah mudah baik kemerdekaan untuk bangsa maupun kemerdekaan di diri kita, termasuk kemerdekaan dalam cinta. Kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk bisa meraih apa yang kita inginkan.
4.
Berikan ulasan tentang novel ini?
Novel ini menceritakan tentang cinta kaum bangsawan dan rakyat jelata yang tertentang di tiga zaman, zaman Belanda, Jepang, dan zaman kemerdekaan. R.R Kusumaningtyas dan Kencana Puri. Keduannya tinggal di rumah besar yang di sebut Dalem Pandukusuman. Kisah yang sangat berbeda. Cinta Puri sangat klasik, cinta yang lurus-lurus saja untuk seseorang yang hilang entah kemana, sementara Ningtyas cukup dekat dengan seorang inspektur Belanda.


‘PAMER’ LEWAT INSTAGRAM

Teknologi informasi saat ini semakin dekat dengan kehidupan kita. Salah satunya adalah internet, dan hal baru yang dibawa oleh keberadaan internet adalah media sosial. Media sosial dewasa ini menjadi sangat populer di masyarakat. Media sosial berhasil menyentuh semua kalangan masyarakat, bukan hanya remaja, namun anak-anak hingga orang dewasapun mengenal bahkan menggunakannya. Perkembangan media sosial sampai saat ini selalu naik, itulah yang menyebabkan mengapa sampai sekarang media sosial selalu diminati dan dipilih sebagai salah satu media komunikasi yang efektif dan menyenangkan. Karna di media sosial kita tidak hanya berkomunikasi tetapi kita juga bisa mendapat dan berbagi informasi.
Jumlah media sosial pun sekarang tidak hanya satu atau dua. Seperti Line, Facebook, Twitter, Instagram, G+, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak jumlah media sosial, masyarakatpun tidak hanya menggunakan satu atau dua media sosial, mereka pasti memiliki lebih dari satu akun media sosial. Terlebih sekarang untuk dapat menggunakan dan mendapatkan aplikasi  media sosial bukanlah hal yang sulit.
Instagram, salah satu media sosial yang belakangan ini sangat populer di masyarakat. Instagram saat ini bukanlah menjadi kata yang asing ditelinga kita. Kembali lagi pada pengguna, instagram digunakan oleh berbagai kalangan. Seperti artis, anak sekolah, pegawai kantor, guru, kepala sekolah, dosen, pengusaha, ibu rumah tangga, pejabat, ustadz, dan banyak lagi. Salah satu pejabat yang menggunakan instagram adalah Ridwan Kamil. Dari sekian banyak pengguna instagram tersebut, sebenarnya taukah mereka apa itu instagram? Apakah instagram yang mereka tau hanya sebagai wadah untuk ‘mengunggah’ foto saja?
Aktris asal Inggris, Kate Winslet mengatakan bahwa instagram membuat seseorang memiliki media untuk memamerkan apapun yang dia lakukan. Seakan-akan seseorang melakukannya untuk mendapat persetujuan dari orang banyak. Jika kita pahami maksud pendapat Kate ini memang ada benarnya. Karena sekarang ini yang dilakukan para pengguna instagram adalah mengunggah foto setiap kegiatan mereka, dan yang mereka harapkan dari postingan itu adalah mendapat love and comment yang banyak dari followers mereka. Jadi secara psikologis, sebenarnya ini salah satu cara pengguna instagram yang mengunggah foto tersebut untuk mendapat ‘perhatian’ dari  banyak orang.
Sebetulnya tidak hanya di sosial media instagram saja fenomena mengharapkan ‘perhatian’ ini ada, tetapi di sosial media lainpun begitu, seperti facebook dan sebagainya. Namun jika di instagram, mereka seperti memiliki tempat atau wadah untuk menunjukkan, memamerkan segala kegiatan yang mereka lakukan melalui foto, seperti ketika travelling, berkunjung ke cafe yang sedang hits. Instagram juga bisa disebut sebagai wadah untuk memamerkan baju atau pakaian yang sedang mereka gunakan atau sering disebut ootd (outfit of the day). Mereka seakan ingin menunjukkan kepada orang banyak mengenai pakaian yang ia pakai. Dan mengharapkan komentar positif akan foto pakaian yang mereka unggah. Ketika ia mengunggah itu di instagram, ia akan menuliskan “ootd” sebagai captionnya. Bahkan ada orang yang rela merogoh kocek yang dalam supaya mereka dapat mengunggah sesuatu yang ‘wah’ di akun instagramnya. Seperti, ada orang yang ingin pergi ke luar negeri dan berkunjung ke suatu tempat yang indah, serta membeli pakaian baru yang cocok atau sesuai dengan tempat yang akan ia kunjungi. Mereka rela melakukan hal itu hanya demi sebuah foto yang nantinya bisa mereka unggah di instagram. Walaupun tidak semua pengguna instagram seperti itu.
Sebetulnya tidak masalah jika seseorang menggunakan instagram dan mengunggah foto-foto mereka. Hak mereka untuk melakukan itu. Karena instagram dibuat memang untuk itu. Namun yang perlu di perhatikan adalah, tujuan orang menggunakan instagram tersebut. Jika orang menggunakan instagram dengan tujuan untuk mendapat ‘love and comment’ yang banyak dari orang, menambah followers, itu tidak tepat. Karena jika kedua hal itu dijadikan tujuan, mereka akan merasa ‘down’ ketika suatu saat foto yang mereka unggah, ‘love and comment´ yang mereka dapatkan tak sesuai dengan yang mereka harapkan atau ‘love and comment’ yang mereka peroleh tak sebanyak yang didapatkan temannya ketika mengunggah foto, lalu muncul rasa tidak percaya diri dan merasa dirinya buruk.

Instagram memang salah satu sosial media yang dipakai sebagai tempat kita untuk mengekspresikan diri dengan cara berbagi foto. Namun, mari kita ubah niat kita ketika akan mengunggah foto tersebut. Karena sesuatu hal yang kita lakukan jika ingin memiliki hasil yang baik, itu berasal dari niat yang baik pula.
PACARAN
(TEKS DISKUSI)

Pacaran adalah hubungan antara dua insan manusia yang berbeda dari beberapa segi. Dari segi gender, kebiasaan, sifat, tingkah laku, pandangan, dan masih banyak lagi. Beberapa orang mengatakan bahwa, hubungan pacaran yang mereka jalani didasari oleh rasa saling suka dan saling cinta. Masing-masing diantara mereka memiliki ketertarikan satu sama lain.
            Zaman sekarang, pacaran bukanlah mejadi hal tabu bagi sebagian orang, terutama remaja. Bahkan mereka yang berpacaran beranggapan bahwa, pacaran dapat memberikan dampak positif pada dirinya. Karena, pacaran bisa saling memotovasi, memberikan semangat, dukungan, dan perhatian. Membuat diri ini begitu berarti.
            Pacaran tidak akan membuat kesepian, karena ketika orang lain tidak ada, masih ada pacar yang selalu ada. Kita bisa menceritakan segala sesuatu yang kita alami hari ini kepada pacar kita. Mencurahkan segala isi hati kepadanya. Meminta solusi serta masukan-masukan dari dirinya, yang tanpa sadar, nantinya masukan itu akan langsung kita terima, tanpa kita filter. Karena apa, sebagian dari hati kita sudah manaruh kepercayaan dan keyakinan pada dirinya.
            Pacaran itu keren. Dengan pacaran itu berarti kita mengikuti perkembangan zaman. Tidak kalah dengan kawan-kawan kita ketika pergi kemana-mana dengan sang pacar, kita pun juga bisa seperti itu jika kita memiliki pacar. Kemana ingin pergi ada yang menemani, tidak akan merasa sendiri.
            Dari pacaran pun, bisa membuat kita bertemu dengan jodoh. Entah itu dengan pacaran yang sudah berlangsung lama hingga bertahun-tahun, atau bahkan hanya dengan pacaran yang masih sangat baru berjalan. Jodoh memang tidak ada yang tahu kapan, dimana, dan siapa, maka dari itu banyak orang beranggapan, tak ada salahnya mencari-cari jodoh melalui pacaran. Pacaran adalah hak setiap individu, jadi tak ada salahnya menjadikan pacaran sebagai tahap pencarian jodoh.
            Akan tetapi, dari semua manfaat yang disampaikan oleh orang-orang yang menjalin hubungan pacaran, tidak selamanya tepat. Tidak berpacaran pun memberikan manfaat yang jauh lebih banyak. Seperti, kita tidak akan memusatkan perhatian kita hanya pada pacar kita saja. Banyak orang disekeliling kita yang juga perlu kita perhatikan misalnya saja, orang tua, keluarga, sahabat, dan kawan.
Akan ada banyak waktu yang kita gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, seperti mengerjakan tugas, melakukan kegiatan amal, berorganisasi, dan beribadah. Waktu kita tak akan terbuang sia-sia. Melakukan hal-hal yang bermanfaat, akan menghindarkan kita dari kemaksiatan dan juga rasa kesepian. Karena sejatinya, kemaksiatan timbul dari diri yang merasa kesepian dan berusaha mencari hal-hal yang dianggap dapat menghilangkan rasa sendiri yang berujung pada kemaksiatan bahkan zina. Naudzubillah.
Zaman sekarang, tidak ada pacaran yang modalnya hanya rasa cinta, tentulah perlu yang namanya uang. Entah itu untuk makan di cafe, jalan-jalan, memberikan hadiah ketika salah satu dari pasangan berulang tahun, dan dana itu pun tak sedikit. Terlebih jika kita masih bersekolah, dan uang saku kita pun bahkan masih bergantung pada orang tua. Yang pada akhirnya itu semua akan menjadi pemborosan, padahal kebutuhan kita sebagai pelajar pun juga tidak sedikit. Maka dari itu, dengan tidak pacaran, membuat kita berhemat dan tidak melakukan pemborosan.
Hati kita pun akan lebih tenang, terhindarkan dari perasaan cemburu. Tidak akan juga merasakan sakit hati karena putus cinta. Jangan kita korbankan hati kita kepada orang yang bahkan belum tentu menjadi masa depan kita, yang belum tentu menjadi jodoh kita. Cukup berikan hati kita kepada sang Pencipta. Karena ketika sekali saja kita menggantungkan hati kita pada manusia, maka saat itu juga kita akan kecewa. Cukuplah Allah yang menjadi tempat curahan hati kita. Cukuplah Allah dan orang tua yang seharusnya kita jadikan sebagai prioritas kita.
Oleh karena itu, dengan tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis, akan membuat kita lebih produktif. Tidak masalah kita tidak memiliki pacar, jika akhirnya itu akan membuat kita lebih mudah untuk menciptakan prestasi-prestasi baru. Belum saatnya kita membagi rasa cinta kita kepada dia yang belum halal bagi kita. Tak perlu takut jika kita tidak berpacaran nantinya kita tidak akan menemukan jodoh kita. Tak perlu kita pusing memikirkan hal semacam itu untuk saat ini. Percayalah, itu semua sudah ada yang mengatur, yang perlu kita lakukan saat ini hanya perbaiki diri kita supaya kelak kita juga akan mendapat jodoh yang baik. Perbaiki diri sama dengan memperbaiki jodoh kita.


TUGAS MATA KULIAH DASAR-DASAR MENULIS
"TEKS DISKUSI"
Dosen : Bapak Zainal Arifin

Rabu, 28 Oktober 2015

ULASAN ‘Nobar’ WAYANG KAMPUNG SEBELAH

Selasa, 20 Oktober 2015, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Semarang kembali mengadakan acara ‘nonton bareng’. Tetapi kali ini, bukan menonton film, melainkan wayang-salah satu kesenian yang berasal dari Jawa-. Pertunjukkan wayang oleh Wayang Kampung Sebelah.

            Jika dilihat, penonton pada nobar kali ini lebih banyak, dibanding ketika nobar film Soekarno sebelumnya. Karena telihat dari kursi-kursi bagian bawah terlihat penuh, dan juga bagian tribun pun terisi, walaupun tidak penuh. Antusias penonton pada nobar kali ini lebih banyak dibanding nobar film Soekarno sebelumnya. Entah mungkin karena film Soekarno sebelumnya sudah banyak yang menonton di bioskop atau karena ini pertunjukkan wayang lebih menarik dibandingkan film.

            Wayang Kampung Sebelah kali ini menceritakan mengenai pemilihan Kepala Desa di Desa Bangunharjo. Tapi sebelum cerita dimulai, pertunjukkan dibuka dengan beberapa lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi, atau dapat disebut sinden yang merupakan salah satu anggota Wayang Kampung Sebelah. Setelah sinden selesai menyayikan beberapa lagu, Dalang menempatkan diri, duduk bersila membelakangi penonton.

            Cerita dimulai dengan gembar-gembor salah satu calon Kepala Desa, dengan penampilannya yang sudah rapi dan mengenakan jas. Dia menyampaikan segala misinya untuk mengambil hati rakyat supaya nantinya dapat memilihnya sebagai kepala desa. Lalu mulailah pada saat penghitungan suara, dan muncul lagi beberapa peran.

Disini dalang sangat pandai mengantur waktu, dan juga perubahan suara tiap tokoh. Dalang bisa merubah suaranya menjadi lebih dari 5 suara sesuai dengan karakter si tokoh. Percakapan yang terjadi antar tokohpun tidak terlalu formal atau serius. Dalang membuatnya ringan dan mudah dipahami penonton. Bahkan percakapan-percakapan yang terjadi mengundang gelak tawa para penonton. Entah itu dari nada suara maupun isi dialognya.

Lalu, selesailah penghitungan suara, dan yang terpilih menjadi Kepala Desa adalah Somad. Cara bicara Somad membuat penonton gemas, dan juga tertawa disaat yang sama. Somad dapat terpilih menjadi kepala desa karena pemilu ‘uang’ yang ia lakukan kepada rakyat Bangunharjo. Memang dasar rakyat Indonesia yang mudah sekali terpengaruh, walaupun hanya dengan selembar uang. Mereka rela mengorbankan desanya dipimpin oleh orang yang tidak tepat, orang yang belum berkompeten.

Malam hari setelah terpilihnya Somad sebagai Kepada Desa, ia mengadakan pesta rakyat, dengan mengundang beberapa penyanyi, seperti Roma Ramarimari yang sebenarnya adalah Roma Irama, dan banyak lagi. Dan lagi-lagi nama-nama seperti itu membuat penonton tertawa. Pesta rakyat berlangsung sangat ramai, hingga larut.

Setelah beberapa waktu masa kepemimpinan Somad, ada rakyat merasa kurang setuju, dan meminta agar Somad turun dari jabatannya sebagai Kepala Desa. Rakyat melihat kinerja Somad yang sama sekali tidak baik, dan akhirnya menuntut agar Somad berhenti menjadi kepala desa. Warga desa Bangunharjo butuh pemimpin yang benar-benar bisa memimpin.


Hidup memang lah membutuhkan uang, tak ada orang yang bisa hidup layak apabila tanpa uang. Tidak ingin munafik, tetapi memang begitulah, uang adalah salah satu yang utama dalam hidup. Tetapi, kita harus bisa menyaring, dimana dan kapan kita bisa menempatkan uang itu. Tidak selamanya uang itu selalu kita jadikan patokan. Tak selamanya pula sesuatu yang berjalan dengan uang, akhirnya akan baik. Seperti dalam cerita ini. 

Rabu, 21 Oktober 2015

ULASAN ‘Nobar’ FILM SOEKARNO

          Kamis, 15 Oktober 2015, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang mengadakan nonton bareng,  film Soekarno, guna menyambut Bulan Bahasa. Gedung Balairung yang digunakan sebagai tempat nonton bareng dipenuhi oleh mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni. Terlihat antusias dari para mahasiswa, walaupun sangat yakin bahwa sebagian besar dari mahasiswa sudah pernah melihat film ini sebelumnya, karena film ini memang sudah lama dirilis, yaitu tanggal 11 Desember 2013 (11-12-13) dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

            Ketika film mulai diputar, seluruh penonton diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Awalnya masih banyak mahasiswa yang ragu untuk berdiri atau tidak, namun akhirnya seluruh penonton memutuskan untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelahnya film benar-benar dimulai, penonton menyaksikannya dengan serius. Film ini menceritakan tentang perjalanan hidup Ir. Soekarno dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Percakapan yang digunakan dalam film ini bukan hanya menggunakan bahasa Indonesia saja, tetapi terkadang ada percakapan yang menggunakan bahasa Jawa, Sumatera, dan juga bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Jepang, sehingga disertai subtittle bahasa Indonesia sehingga penonton memahami isi percakapan yang ada.

            Film ini menceritakan awal mula pergantian nama Kusno menjadi Soekarno. Karna pada  masa itu, orang masih mempercayai yang namanya keberuntungan maupun kesialan melalui sebuah nama. Masa remaja Soekarno pun diceritakan disini, sudah terlihat bakat pemimpin dan jiwa pembela sejak Soekarno remaja. Pemikiran-pemikirannya yang terkadang melebihi orang dewasa pada saat itu.

            Kisah cinta dan kehidupan rumah tangga Soekarno pun juga diceritakan disini. Saya yang awalnya hanya mengetahui bahwa istri satu-satunya Soekarno adalah Ibu Fatmawati. Tetapi setelah melihat film ini saya tahu bahwa sebelum menikah dengan Ibu Fatmawati, Soekarno pernah menikah dengan Ibu Inggit. Jadi kisah cinta Soekarno dan Fatmawati, berawal ketika anak angkat Soekarno-karena ketika menikah dengan Inggit, Soekarno tidak memiliki keturunan-berusia remaja, mengenalkan Fatmawati sebagai temannya kepada Soekarno dan Inggit. Soekarno telihat tertarik kepada Fatmawati pada saat itu.

Dan adegan yang benar-benar membuat emosi saya bangkit adalah ketika Inggit memutuskan pergi dari sisi Soekarno dan mengizinkan Soekarno untuk menikahi Fatmawati, tetes air mata sempat terasa keluar dan juga rasa haru begitu dalam, betapa berjiwa besar seorang Ibu Inggit, dan begitu berlapang dada. Lalu singkatnya, Soekarno menyatakan cinta kepada Fatmawati dan memintanya menikah dengan Soekarno, setelah Soekarno pisah dengan Inggit.


            Adegan-adegan yang mengerikan banyak disajikan, seperti penjajah Jepang yang dengan tega menembak warga Indonesia hingga mati, bagaimana kerja rodi itu dilakukan, hukuman-hukuman yang diberikan penjajah kepada rakyat Indonesia. Semua adegan itu benar-benar membuat miris. Dalam film pula ini, terlihat bagaimana sulitnya, perihnya hati Soekarno melihat rakyatnya yang diperbudak oleh penjajah. Sebetulnya film ini sebagian besar adalah menceritakan kembali sejarah perjuangan Soekarno dalam meraih kemerdekaan Indonesia yang dikemas dalam bentuk film. 

Perjuangan-perjuangan hebat Soekarno, pemikiran-pemikiran cerdas dan tepatnya, pidatonya yang selalu berhasil mengambil hati rakyat dimana pun itu. Soekarno merupakan tokoh besar yang telah memberikan banyak hal bagi bangsa dan negara Indonesia. Bersama Moh. Hatta sang sahabat dan rakyat lainnya akhirnya Soekarno berhasil memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Dengan memproklamirkan teks Proklamasi hasil rundingan Soekarno, Moh. Hatta, dan sahabatnya, serta mengibarkan bendera Merah Putih yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Senin, 19 Oktober 2015

Tanggapan Tulisan

Taggapan Tulisan “Peneladanan Dharma Perguruan Tinggi”

            Saya setuju dengan pendapat penulis yang membenarkan pernyataan yang diungkapkan oleh Rektor UPGRIS, Bapak Dr. Muhdi SH, M.Hum. Dimana pernyataannya adalah seperti ini “Jika dosen hanya mengabar saja, dosen itu ibarat tukang becak.”. Sebenarnya pernyataan ini pun cocok disampaikan kepada Guru. Karena memang inti dari tugas pekerjaan antara dosen dan guru adalah sama, yaitu mengajar, menyampaikan ilmu. Tapi tak sampai disitu saja, seorang guru atau dosen yang diharapkan oleh instansi pendidikan ialah, seorang pengajar yang mampu membimbing anak didik, mempengaruhi anak didik, bukan hanya sekadar menyampaikan materi, mengajar, berdiri didepan kelas, lalu semua tugasnya sudah selesai.
            Dosen dan Guru pun diminta untuk mampu membangun karakter tiap-tiap anak didik, membangun generasi yang berkualitas, yang nantinya akan mereka lepas untuk berjuang dengan dunia luar, dunia persaingan.
            Antara dosen dengan mahasiswa, guru dengan siswa, peran yang mereka jalankan harus seimbang, sehingga harapan tiap instansi pendidikan terwujud, dengan cara kerjasama yang dilakukan antara dosen dengan mahasiswa dan guru dengan siswa.

Tanggapan Tulisan “Pemerataan Label Sekolah”

            Sekolah-sekolah favorit dewasa ini memang menjadi incaran para siswa baru, bahkan para orang tua. Yang mereka ketahui mengenai sekolah favorit ialah sekolah yang memiliki standar lebih tinggi dibanding sekolah-sekolah biasa. Dulu sempat ada yang dinamakan sekolah RSBI. Pada saat itu, orang berfikir, jika salah satu dari mereka bisa masuk kedalam sekolah berlabel RSBI itu, ia adalah orang yang hebat dan memiliki kelebihan materi. Faktanya memang begitu, sekolah berlabel RSBI pada saat itu, dipandang sebagai sebagai sekolah favorit. Tapi RSBI tersebut tidak berlangsung lama, hingga akhirnya sekitar 3 tahun lalu, sudah tidak ada lagi sekolah berlabel RSBI.
            Di Indonesia seperti ada penggolongan atau pengelompokkan sekolah-sekolah. Seperti misalnya ada sekolah yang dipilih karna sekolah tersebut terkenal dengan siswanya yang pandai, atau sekolah tersebut dipilih karna hanya orang-orang yang berlebihan materi saja yang bisa masuk sekolah tersebut. Sebetulnya hal semacam ini wajar-wajar saja, karna memilih itu merupakan hak tiap manusia. Akan tetapi, jika seperti itu terus, bagaimana sekolah-sekolah pinggiran yang tidak pernah tersorot, seperti yang disampaikan penulis.

Tanggapan Tulisan “Puisi-Puisi Setia Naka Andrian”

            Puisi-puisi yang ditulis oleh penulis disini sangat menarik. Saya suka kata demi kata yang akhirnya dirangkai menjadi kalimat dalam puisi-puisi tersebut. Kata-kata yang digunakan sebenarnya tidak terlalu berat, tetapi agar kita dapat menagjap atau memahami maksud dari puisi tersebut, kita memang harus sedikit berpikir.


Rabu, 14 Oktober 2015

Ulasan Teater "Mengancam Kenangan"

Kenangan, setiap manusia pasti memiliki kenangan dalam hidupnya. Entah itu kenangan bersama kekasih, kawan, maupun keluarga. Jika berbicara mengenai kenangan, tak akan pernah ada usai. Setiap manusia pun memiliki definisi kenangan berbeda-beda. Seperti pertunjukkan teater, Kamis pekan lalu tanggal 8 Oktober 2015 diperankan oleh 5 aktor dan aktris dari Teater Tikar, yang mengisahkan sebuah cerita hidup  mengenai ‘Kenangan’.

            Awal pertunjukkan teater ini dimulai dari latar panggung yang terlihat ‘mencekam’, dengan pencahayaannya yang sengaja dibuat minimal.  Suasana pun mulai senyap, penonton mulai memperhatikan setiap gerak-geraik yang dilakukan oleh lima tokoh yang berada diatas panggung.

Seorang aktris terlihat berdiri, menggengam gagang sapu. Empat orang tokoh lainnya sudah pada tempatnya masing-masing, dibalik plastik putih buram yang menjuntai kebawah, terkesan seperti bersembunyi dengan memakai jubah, yang membuat wajah empat tokoh itu tak terlihat dengan jelas. Dengan tatapan mata mereka yang tajam dan lurus kedepan. Salah satu tokoh laki-laki  berjubah yang berdiri di depan Nyonya-aktris yang menggenggam gagang sapu-, mencoba membuka percakapan dengan membuka mulut, bermaksud mengajak si Nyonya untuk berdialog. Suaranya terdengar sangat jelas dan keras diiringi dengan dentuman gagang sapu oleh si Nyonya. Dan dentuman sapu pada saat pertama kali, membuat penonton terkejut. Namun, terlihat Nyonya enggan menanggapi sapaan tokoh laki-laki itu, namun akhirnya ia mengalah untuk membalas sapaan itu.
           Tokoh laki-laki dengan badan gempal itu pun bertanya kepada Nyonya, dengan pandangan mata yang tajam dan lurus kedepan,

“Nyonya, mengapa kau meluangkan waktu sekedar untuk menyapu teras rumahmu?”

Nyonya tak menanggapinya, lalu datang pertanyaan lain dari tokoh perempuan berjubah yang berdiri disisi kanan pangung dibalik plastik putih buram yang menjuntai, nada suaranya yang terdengar tegas dan yakin. Nyonya terlihat sangat tidak nyaman dengan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya dari tokoh-tokoh berjubah itu. Tangannya mulai bergetar menggenggam gagang sapu tersebut, raut wajahnya sarat akan kesedihan yang mendalam, bibirnya pun mulai bergetar.

Lalu keempat tokoh berjubah itu, bergerak dari tempatnya, dan berjalan mengelilingi si Nyonya, dengan salah satu tangan mereka menunjuk tepat kearah si Nyonya. Langkah kaki yang mereka buat terdengar sangat jelas, dan keras, seolah-olah berusaha memenuhi kepala Nyonya dengan suara-suara yang gaduh. Keempat tokoh berjubah itu meneriakkan pertanyaan-pertanyaan pada si Nyonya dengan suara keras.

Seorang perempuan memeluk erat lengan seorang laki-laki, dibawah keduanya ada seorang perempuan lainnya duduk diantara keduanya yang berdiri, satu dari masing-masing tangan laki-laki dan perempuan yang bergandengan itu menutup mata perempuan yang ada dibawah mereka. Mereka bertahan pada posisi itu selama beberapa detik.

Seorang perempuan berdiri, dibawahnya ada laki-laki dan perempuan, dimana si perempuan tengah memeluk erat lengan si laki-laki, lalu kedua tangan perempuan yang berdiri itu menutup mata kedua orang yang berada dibawahnya. Mereka bertahan pada posisi itu selama beberapa detik. Setiap pergerakan yang dilakukan ketiga tokoh itu mampu menarik perhatian penonton.

Salah satu dari perempuan itu bergegas bersembunyi dibalik plastik putih buram yang menjuntai, dan dengan cepat mengenakan jubah. Jubah yang sama seperti yang dikenakan keempat tokoh tadi di scene awal.

Terlihat laki-laki berdiri diujung panggung sebelah kiri, dengan makekin dihadapannya. Laki-laki itu terlihat memandangan manekin itu, dan sesekali mengelusnya, seakan berkomunikasi dengan manekin itu. Lalu terdengar suara perempuan,

“Mengapa kau melihat ku seperti itu?” Nada suaranya terdengar mengancam.

“Karena aku harus melihatmu.” Jawab laki-laki itu, nada suara terdengar sedih.

Pertanyaan demi pertanyaan perempuan itu lontarkan kepada laki-laki itu, seperti ingin tahu.
Sedangkan ketiga tokoh lainnya terlihat tenang,bersembunyi dibalik plastik putih buram yang menjuntai kebawah, duduk bersila dengan pandangan yang tajam menatap lurus kedepan. Seolah-olah tak menghiraukan percakapan hebat yang terjadi antara laki-laki dan perempuan itu.

            Suasana yang tadinya ‘mencekam’ berubah menjadi ringan, dan terkesan kekanak-kanakan. Keempat orang tokoh bertingkah dan bergerak kesana kemari seolah dirinya berumur belasan tahun. Memainkan permainan masa kecil, seperti lompat tali, dan taplak. Suara-suara kecil terdengar riuh saat mereka bermain. Suara tawa bocah laki-laki yang sangat dirindukan oleh si Nyonya. Keempat tokoh berjubah itu, bermain dan terus bermain, tanpa memperdulikan Nyonya. Dengan tersedu-sedu, dengan suara merdunya di Nyonya pun bernyanyi, nyanyian yang mengisyaratkan isi hati, pikiran, serta suasana dirinya.

Nyonya teringat pada saat  dirinya menceritakan dongeng kepada anak laki-lakinya yang saat itu selalu tertidur dipangkuannya. Bagaimana setiap malam anak laki-laki itu selalu menagih kepada dirinya untuk diceritakan tentang sebuah dongeng.

Hingga akhirnya keempat tokoh berjubah itu meminta pula diceritakan sebuah dongeng oleh si Nyonya. Namun ia selalu bertanya kembali pada keempat tokoh itu, dan menyamakan bahwa dirinya pun seperti dongeng yang keempat tokoh itu minta untuk diceritakan.

Keempat tokoh berjubah itu berhenti meminta kepada Nyonya, dan berteriak

“Berarti hidupmu adalah dongeng Nyonya!”

Pernyataan-pernyataan itu memenuhi rongga telinga Nyonya. Ia menggeleng, tidak membenarkan pernyataan itu, namun setelahnya ia mengangguk juga.

Diakhir pertunjukkan, si laki-laki dan Nyonya mulai lelah dengan kenangan yang selalu mengusik diri mereka. Hingga si lelaki mendekati manekin, memeluknya dari belakang, mengeluarkan pisau, lalu menusuk bagian demi bagian manekin itu secara perlahan, hingga air mengalir keluar dari tubuh manekin itu, membasahi panggung dan tubuh laki-laki itu.
Setelahnya laki-laki itu beranjak dari tempatnya. Berganti dengan si Nyonya yang datang mendekati manekin itu dengan menarik satu ember penuh air, yang ia bawa dengan sekuat tenaga. Ia ambil satu gayung air dari dalam ember itu, lalu menyiram nya tinggi diatas tubuh manekin dengan air mata dan isak tangis dirinya. Begitu berulang-ulang hingga air habis, dan benar-benar membasahi panggung serta dirinya.

Setelahnya lampu menyala, dan pertunjukkan berakhir. Bersamaan dengan riuhnya tepuk tangan para penonton yang berada diruangan tersebut.